Selasa, 17 Juli 2012

Antara Adzab Dunia dan Adzab Akherat


Antara Adzab Dunia dan Adzab Akherat
• Adanya kaidah dan prinsip balasan atau pembalasan atas setiap amal baik dan buruk, merupakan sebuah aksiomatika baku, yang banyak sekali ditegaskan di dalam Al-Qur’an, As-sunnah dan ijma’ para ulama.

Pembalasan amal buruk berupa adzab, berlaku di akhirat dan di dunia, sebagaimana juga balasan amal baik. Namun yang pokok, inti dan hakiki adalah yang di akhirat, sedangkan pembalasan amal buruk berupa adzab di dunia hanyalah sekadar “mukadimah” dan sebagian kecilnya saja, sebesar dan sedahsyat apapun bentuknya dalam penilaian dan pandangan kita.

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong” dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan karena kejahatannya itu, dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu akan (dibalas) masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS. An-Nisaa’: 123-124).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahala dan balasannya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosa dan adzabnya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk (kepentingan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka (akibatnya) itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhan-mulah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Jaatsiyah: 15).

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya ia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah-pun, niscaya ia akan melihat (balasan)-nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8).

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imraan: 185).

• Adzab di akhirat sebagai akibat dari dosa adalah sebuah kepastian dan keniscayaan sesuai kadar dosa, kecuali jika Allah, dengan hikmah dan rahmah-Nya, berkehendak mengampuni si pelaku. Adapun adzab di dunia maka sifatnya sangat relatif dari aspek terjadinya dan juga kadarnya. Sehingga diantara para pendosa, ada yang disegerakan adzab atas dosa-dosanya di dunia, dan ada pula yang justru tidak diadzab di dunia, atau hanya diadzab ringan saja yang tidak sepadan dengan amal-amal buruknya. Sementara ancaman adzab hakiki (yang sebenarnya) baginya, masih Allah simpan untuk nanti ditimpakan semuanya atasnya di akhirat. Oleh karenanya, janganlah orang yang selamat dari bencana adzab di dunia, merasa aman dan mengklaim diri lebih baik daripada orang yang terkena bencana adzab, baik akibat dosa sendiri maupun akibat dosa orang lain.

وسَلَّم: “إِذا أَرادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا، عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذا أَرادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ، أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ، حَتَّى يُوافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيامَةِ”. (رواه الترمذي، وقال: حديث حسن).

Dari Anas, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, maka justru Dia menyegerakan baginya hukuman/sanksi (adzab atas dosanya) di dunia ini. Dan jika Allah menginginkan keburukan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia akan menahan dosanya (dengan tidak diadzab di dunia), sampai Dia nanti akan menyempurnakan (adzab hukuman keseluruhannya) pada hari Kiamat” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Ini hadits hasan).

• Adzab akhirat bersifat murni buruk, madharat, tanda rugi dan celaka, serta merupakan bukti laknat dan murka Allah terhadap si pelaku. Sedangkan adzab dunia belum tentu buruk, atau madharat, atau sebagai tanda rugi dan celaka, serta juga belum tentu sebagai bentuk laknat dan murka Allah, melainkan bisa jadi sebalik dari semua itu. Karena memang banyak tersimpan hikmah baik dan positif di balik adzab-adzab dunia.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan (dosa) tangan manusi, supaya Allah membuat mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

“مَنْ يُـرِدِ اللهُ بِهِ خَـيْرًا يُصِبْ مِنْهُ” (رواه البخاري و أحمد)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan maka Allah justru akan memberikan musibah kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).

“إِذَا أَحَبَّ اللهُ قَـوْمًا ابْتَلاَهُـمْ” (رواه الترمذي و أحمد و البيهقي)

”Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan ujian dan cobaan kepada mereka” (HR At-Turmudzi, Ahmad dan Al-Baihaqi).

• Kaidahnya bahwa, seluruh adzab dan bencana keburukan serta kerusakan yang terjadi di dunia, adalah akibat dari ulah kotor dan prilaku dosa tangan-tangan manusia, hanya saja kita tidak selalu tahu, tangan kotor manusia yang mana itu. Sebagaimana perlu diingat bahwa, segala bencana adzab, seburuk dan sedahsyat apapun, hanyalah sebagian kecil saja dari akibat dan pembalasan buruk yang seharusnya. Karena sebagian besarnya justru Allah ampunkan, atau masih Allah simpan untuk adzab akhirat kelak, kecuali jika ada tobat yang diterima atau dapat karunia ampunan. Karena andai pembalasan adzab itu ditimpakan persis sesuai dengan kadar dosa yang telah diperbuat, niscaya akan sirna dan musnahlah semuanya tanpa sisa!

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, padahal Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syuuraa: 30).

“Dan seandainya Allah (berkehendak) menghukum manusia (sepadan) dengan kedzaliman mereka, niscaya tidak akan disisakan-Nya di muka bumi ini satupun makhluk melata. Tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS. An-Nahl: 61).

“Dan sekiranya Allah (berkehendak) menghukum manusia (setara) dengan (dosa) yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satupun mahluk melata. Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu. Maka apabila datang ajal (ketentuan) mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya” (QS. Faathir: 45).

• Di akhirat, kaidahnya: setiap orang akan diadzab, dengan kehendak Allah, sesuai dosa-dosanya sendiri, dan tidak seorangpun terkena adzab akibat dosa orang lain, siapapun dia. Adapun di dunia, maka adzab yang turun akibat suatu dosa, bisa jadi tidak hanya menimpa pelakunya saja, melainkan juga mengenai orang lain, sebagai imbas dan konsekuensi sunnatullah. Bahkan mungkin saja akibat buruk di dunia, berupa adzab dan bencana, dari suatu dosa, justru tidak menimpa pelakunya, melainkan mengenai orang dan pihak lain. Tentu saja terdapat banyak hikmah di baliknya, seperti telah disebutkan.

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul (menanggung akibat) dosa orang lain; Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (balasan) selain apa yang telah diusahakannya (sendiri)” (QS. An-Najm: 38-39).

Katakanlah: “Apakah Aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. Al-An’aam: 164).

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’adzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Israa’: 15).

(Lihat juga: QS. Faathir: 18; QS. Az-Zumar: 7).

“Dan peliharalah dirimu (waspadalah) dari adzab (pembalasan sebagai hukuman) yang (jika terjadi) tidak hanya khusus menimpa orang-orang yang dzalim (yang berdosa) saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25).

عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنْ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ”، قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: “يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ” (رواه البخاري والترمذي وابن ماجة وأحمد).

Dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada sepasukan tentara yang menyerang Ka’bah, ketika mereka sampai di sebuah tanah lapang, mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai yang pertama hingga yang terakhir”. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai yang pertama hingga yang terakhir, sedangkan didalamnya ada rakyat jelata dan yang bukan dari golongan mereka (yang tidak punya maksud sama)?” Beliau menjawab: “Mereka akan ditenggelamkan seluruhnya mulai yang pertama hingga yang terakhir, kemudian mereka akan dibangkitkan pada hari qiyamat sesuai dengan niat mereka masing-masing”. (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi< Ibnu Majah dan Ahmad).

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ”، وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: “نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ” (متفق عليه).

Dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya dalam kondisi ketakutan sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bagi bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita masih ada orang-orang yang shalih?”. Beliau menjawab: “Ya benar jika kebusukan (kejahatan) telah merajalela”. (HR. Muttafaq ‘alaih).

“Para utusan (malaikat) itu berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka Karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (QS. Huud: 81).

• Diantara hikmah di balik adzab dunia, baik akibat dosa sendiri, maupun sebagai imbas dosa orang lain, misalnya: sebagai ujian keimanan dan kesabaran, sebagai pelejit iman dan peningkat derajat, sebagai penghapus dosa, sebagai sarana penghimpun pahala, sebagai sarana pendorong muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri, sebagai faktor dan sarana penyadar bagi pelaku untuk tobat, istighfar dan ingat Allah, sebagai peringatan dan pelajaran bagi yang lain, sebagai faktor penanam dan penguat rasa khauf (takut) kepada Allah, sebagai pengingat dan penyadar atas adanya tanggung jawab sosial bagi semua, dan lain-lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ” (رواه الترمذي وقَالَ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ujian akan senantiasa menimpa orang mukmin laki-laki dan perempuan, pada diri, anak dan hartanya hingga ia bertemu Allah nanti, dengan tanpa membawa satu kesalahanpun (karena sudah terhapus oleh uian-ujian yang dialaminya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih).

سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا” (رواه البخاري وأحمد).

(‘Amir berkata), aku mendengar An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang jatuh (dalam pelanggaran) terhadapnya seperti sekelompok orang yang bertaruh (dalam berbagi tempat) di sebuah kapal (yang mereka tumpangi), maka sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah kapal itu. Orang yang berada di bagian bawah bila ingin mengambil air, merekapun harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas. Lalu mereka berkata (diantara mereka): “Seandainya saja kita membuat satu lubang di bagian kita (dari kapal ini) saja kapal ini, sehingga kita tidak perlu mengganggu orang yang berada di atas kita”. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mau mencegah orang-orang itu, maka merekapun selamat dan selamatlah semuanya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

readmore »»  

Baju Ketaatan Palsu


Baju Ketaatan Palsu
Saudaraku…

Barangkali kita masih mampu membaca strategi racikan setan dan mengenal tipu dayanya berupa maksiat.

Barangkali kita mampu mendengar dengan jelas bisikan lembutnya kala mengajak kita melakukan dosa.

Dan kita masih mampu menggelengkan kepala pertanda menolak tawaran-tawaran panasnya.

Tapi yang paling berat adalah saat setan memberi kita baju ketaatan dan sarung amal shalih serta selimut ibadah. Yang karenanya sering kita tergelincir dan terjatuh saat mendaki puncak ubudiyah kepada Allah SWT.


Dan itulah yang diisyaratkan oleh DR. Mustafa Siba’i dalam ulasannya:

Setan memancing kita untuk mendekati wanita (jelita) dengan dalih ia adalah insan lemah yang memerlukan perhatian istimewa.

Ia menawarkan kita untuk menggapai dunia dengan dalih agar dunia tidak menguasai dan mempermainkan kita.

Ia mengajak kita mendekati orang-orang yang berperangai buruk dengan alasan agar kita dapat memberi hidayah kepada mereka.

Ia membawa kita ke perkumpulan orang-orang zalim untuk berbasa basi dengan mereka dengan argument kita bisa menasihati mereka.

Ia mengajak kita untuk mengintai kesalahan dan kelemahan orang yang berseberangan dengan kita dengan dalih untuk membuka pintu amar ma’ruf dan nahi munkar.

Ia mengajak kita memisahkan diri dari jam’ah (yang kita berjuang di sana) dengan dalih kritis menyuarakan kebenaran (karena ada sisi kelemahan dalam jama’ah itu).

Ia mengajak kita menarik diri dari medan dakwah dengan argument fokus membenahi diri sendiri.

Ia mengajak kita meninggalkan amal shalih dengan dalih beriman kepada takdir.

Ia mengajak kita untuk mengabaikan majlis ilmu dengan alasan menyibukkan diri dengan ibadah.

Ia mengajak kita meninggalkan ladang perjuangan dengan dalih bahwa manusia sangat membutuhkan sentuhan nasihat kita.

Ia mengajak kita meninggalkan sunnah dengan dalih mengikuti jejak orang-orang shalih.

Ia mengajak kita sesekali waktu berbuat sewenang-wenang dengan dalih agar kita memiliki rasa tanggung jawab di hadapan Allah dan mengukir sejarah (dengan merubah kesewenang-wenangan).

Ia mengajak kita berlaku zalim terhadap sesama dengan dalih menghadirkan rasa kasih sayang terhadap orang-orang yang teraniaya.

Saudaraku…

Dalam banyak ayat Allah SWT memperingatkan kita agar waspada terhadap tipu daya setan. Di antaranya adalah firman-Nya, “Dan janganlah kamu mengikuti jejak langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Al Baqarah: 208.

Namun faktanya, terkadang kita harus jatuh bangun menghadapi perangkapnya. Terlebih di musim dingin ini, tawaran selimut hangat, jas abu-abu dan sarung cap gajah duduk serta sarung tangan ketaatan sering membuat kita terlena dan tertidur pulas. Wallahu a’lam bishawab.
readmore »»  

Bersukrlah

Bersyukurlah Kepada Allah

• Bersyukur kepada Allah adalah perintah.

“Karena itu, ingatlah (berdzikirlah) kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu kufur (mengingkari nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah: 152).

• Tidak bersyukur berarti kufur. Lihat QS. Al-Baqarah: 152, dan firman Allah:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, namu jika (sebaliknya) kamu justru kufur (mengingkari nikmat-Ku), maka esungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

• Bersyukur adalah kebutuhan. Karena semua tentu ingin bertambahnya nikmat, dan syarat serta jalan untuk itu adalah bersyukur. Sehingga semakin banyak dan baik seseorang bersyukur, maka pasti akan semakin banyak dan bertambah nikmat Allah atasnya. Dan jika nikmat berkurang bagi seseorang, maka pasti itu karena ia kurang atau tidak bersyukur. Itu kaidahnya! (Lihat: QS. Ibrahim: 7 diatas).

• Bersyukur adalah kebutuhan. Karena dengan banyak bersyukur seseorang akan selalu stabil, tenang, tenteram, damai dan bahagia dalam hidupnya, bagaimanapun keadaannya. Sedangkan jika tidak bersyukur seseorang akan selalu berada dalam kondisi labil, tidak tenang, tidak tenteram, tidak damai, dan tidak bahagia. Karena ia akan selalu mengeluh dan mengeluh. Dan orang yang banyak mengeluh adalah orang yang tidak atau sedikit bersyukur.

• Bagaimana bersyukur kepada Allah?

Setidaknya ada tujuh kewajiban untuk membuktikan syukur kita kepada-Nya:

1. Banyak bertafakkur memikirkan dan merenungkan nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak tak terhingga (كَثْرَةُ التَّفَكُّرِ فِي نِعْمَةِ الله). Khususnya pada saat-saat dan dalam kondisi-kondisi diamana seseorang sedang diuji dengan hilangnya sebagain nikmat darinya, atau ia merasa akan kurang atau sedikitnya nikmat Allah yang diterimanya. Karena nikmat Allah bagi siapapun itu sangat beragam dan banyak sekali tak terhitung. Maka jika seseorang merasa nikmat yang diterimanya sangat kurang atau sangat sedikit, yang sampai membuatnya banyak mengeluh dan bahkan ada yang sampai protes dan komplain kepada Allah, bahkan lagi sampai-sampai ada yang menuduh Allah tidak adil. Itu semua pasti karena ia tidak atau kurang bertafakkur untuk memikirkan dan merenungkan nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak sekali, sehingga tidak menyadarinya dan tidak mengetahuinya.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.. Dan jika kamu (hendak) menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat kufur (mengingkari nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)..

“Dan jika kamu (hendak) menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. A-Nahl: 18).

2. Mengakui nikmat-nikmat Allah (الاعْتِرَافُ بِنِعْمَةِ الله). Dengan banyak bertafakkur, pasti kita akan mengetahui dan menyadari banyak sekali nikmat Allah atas kita, yang semula tidak kita ketahui dan sadari. Nah kewajiban syukur berikutnya setelah tahu dan sadar adalah mengakui bahwa, semua yang ada pada kita itu, bahkan termasuk yang belum kita ketahui dan sadari sekalipun, adalah nikmat, karunia, anugerah dan pemberian dari Allah, sebagai bagian dari bukti luasnya rahmat-Nya. Dan pengakuan terhadap nikmat Allah adalah salah satu bentuk dan bukti syukur yang sangat istimewa nilainya. Dan karena sikap tidak mengakui itu sama dengan mengingkari. Dan mengingkari sama dengan mengkufuri. Karena memang arti kufur adalah ingkar. Lalu bukankah adzab yang menimpa Qarun adalah akibat kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa, kekayaannya adalah nikmat karunia Allah?

عَن عبد الله بنِ غَناَم البَيَاضي رضي الله عنه أَنَّ رسولَ الله صلَّى اللهُ علَيهِ وسَلَّمَ قالَ: “مَن قالَ حِيْنَ يُصْبِحُ: (اللهمَّ ما أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِن خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الحَمْدُ ولَكَ الشُّكْرُ)، فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ يَوْمِهِ، ومَنْ قَالَ مِثْلَ ذلِكَ حِينَ يُمْسِي فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ لَيْلَتِهِ” (رواه أبو داود والنسائي وابن حبان في صحيحه).

Dari ASbdullah bin Ghanam Al-Bayadhi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang pada pagi harinya membaca dzikir ini: Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi-ahadin min khalqika, famin-Ka wahdaKa laa syariika laKa (Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku, atau pada siapapun diantara makhluk-Mu, di pagi ini semua itu hanyalah berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, segala puji hanya untuk-Mu, dan segala ungkapan syukurpun hanya untuk-Mu), maka berarti ia telah menunaikan kewajiban syukurnya untuk hari itu. Dan barangsiapa yang mengucapkan dzikir seperti itu pada sore harinya, maka berarti ia telah memenuhi kewajiban syukurnya untuk malam itu” (HR. Abu Dawud, An-Nasaa-i dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

”Qarun berkata: “Sesungguhnya aku diberi semua harta itu, hanya karena ilmu yang ada padaku”. Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka; …. Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya) (QS. Al-Qashash: 78&81).

3. Mengungkapkan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah yang tidak pernah putus (التَّعْبِيْرُ عَنِ الشُّكْرِ). Baik dengan pengucapan lesan melalui berbagai kalimat dzikir pujian, sanjungan dan pengagungan Allah Azza wa Jalla, seperti tahmid, tasbih, takbir, tahlil, dan lain-lain (lihat materi dzikrullah), maupun melalui amal perbuatan seperti sujud syukur.

عَن عبدِ الّرحْمن بنِ عَوْفٍ رضي الله عنه قالَ: سَجَدَ النَّبِيُّ صلَى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: “إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ لِلّهِ شُكْرًا” (رواه أحمد وصَحَّحَه الحاكم).

4. Menjaga dan memelihara setiap nikmat dengan sebaik-baiknya sebagai amanah dari Allah (حِفْظُ النِّعْمَةِ وَالمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا). Oleh karena itu segala prilaku dan tindakan yang berakibat penyia-nyiaan, perusakan dan apalagi penghilangan setiap nikmat pemberian Allah, baik itu nikmat fisik, harta maupun yang lainnya,.adalah dilarang keras dan diharamkan. Seperti minuman keras yang merusak akal, narkoba yang merusak semuanya, merusak dan menyakiti anggota tubuh sendiri, membuang harta milik sendiri, apalagi membunuh diri sendiri, semuanya diharamkan dan merupakan dosa-dosa besar sesuai tingkatan masing-masing.

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:َ “إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَال”.ِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai dari kalian tiga perkara dan membenci dari kalian tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan Dia membenci dari kalian desas-desus/rumor /gosip, banyak bertanya (yang tidak perlu) dan tindakan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim).

أَنَّ ثَابِتَ بْنَ الضَّحَّاكِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ بَايَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:َ “مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ بِمِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ عَلَى رَجُلٍ نَذْرٌ فِي شَيْءٍ لَا يَمْلِكُهُ”.

Bahwa Tsabit bin adh-Dhahhak telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaiatnya di bawah pohon. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan agama selain agama Islam secara dusta maka keadaannya adalah seperti ucapannya. Barangsiapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu (alat) maka dia akan disiksa dengan alat tersebut pada Hari Kiamat. Dan seseorang tidak berhak (tidak dibenarkan) bernadzar dengan sesuatu yang tidak dimilikinya.” (QS. Muttafaq ‘alaih).

5. Memanfaatkan setiap nikmat sesuai tujuan yang dikehendaki dan diridhai Sang Pemberi, Allah Ta’ala (تَسْخِيْرُ النِّعْمَةِ لِمَا يُرْضِي المُنْعِمِ), serta berupaya memenuhi segala konsekuensinya. Karena setiap kita nanti akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban atas setiap nikmat pemberian Allah, telah dipakai untuk apa? Apakah telah sesuai dengan kehendak dan keridhaan Sang Pemberi ataukah tidak? Dan balasan serta pembalasan akan diberikan sesuai dengan bentuk dan tingkat pertanggungjawaban.

“Dan janganlah kamu ikut-ikutan saja dalam apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya” (QS. Al-Israa’: 36).

”Kemudian kalian pasti akan ditanyai (diminta pertanggungjawaban) pada hari itu tentang nikmat-nikmat (yang kamu terima dan nikmati di dunia)” (QS. At-Takaatsur: 8).

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ” (رواه الترمذي، و قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).

Dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser (dari pengadilan Allah) pada hari kiamat sampai (selesai) ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan tentang fisiknya untuk apa ia gunakan.” (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: Hadits 


ini hasan shahih).

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, (karena) mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raaf: 179).

6. Bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam upaya ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Dzat Pemberi, Allah ‘Azza wa Jalla (المُجَاهَدَةُ فِي التَّقَرُّبِ إِلَى المُنْعِمِ). Dan itu dengan beragam amal dan ibadah sesuai kemampuan, kondisi dan situasi setiap orang.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى”

Dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari setiap persendian masing-masing kalian harus ada sedekahnya. Dan setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, setiap nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu bisa tercukupi dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR.Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَة:ُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ: “أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا”، فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, mengapa Engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu (andaipun ada) yang telah lalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: “Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?” Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat (malam) sambil duduk, apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku.’ (HR. Muttafaq ‘alaih).

7.Banyak-banyak beristighfar memohon ampunan kepada Allah Dzat Maha Pemurah dan Maha Pemberi karena ketidakmampuan dalam memenuhi kewajiban syukur yang seharusnya dan yang sebenar-benarnya (كَثْرَةُ الاسْتِغْفَارِ للتَّقْصِيْر فِي أَدَاءِ الشُّكْرِكَمَا يَنْبَغْي). Karena betapapun seseorang berupaya optimal dan maksimal dalam memenuhi kewajiban syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diterimanya, namun tetap tidaklah mungkin ia mampu. Sederhana saja, bagamana mungkin ia bisa memelakukan kewajiban syukur seluruhnya, sementara amal-amalnya tetap saja terbatas dan bisa dihitung, yang tentu tidak akan sebanding dengan nikmat-nikmat Allah yang tidak terbatas dan tidak terhingga? Lalu mari renungkan, apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam rangka mensyukuri nikmat puncak yang telah beliau dan para sahabat idam-idamkan sepanjang usia dakwah Islam, yang berupa kemenangan gilang gemilang, penaklukan kota Mekkah dan berbondong-bondongnya masyarakat jazirah Arab masuk Islam? Bukankah beliau diperintahkan mensyukuri semua itu, justru dengan bertasbih, bertahmid dan beristighfar?

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (penaklukan Mekkah).Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka (sebagai bentuk syukur) bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat” (QS. An-Nashr: 1-
readmore »»  

Bersukurlah pasti nikmat bertambah


BERSYUKURLAH, PASTI NIKMAT BERTAMBAH

Minimal ada dua faktor penentu utama kelas dan level syukur seseorang

Pertama, jenis dan tingkat kenikmatan apa yang lebih banyak diingat dan lebih sering disyukuri?

Kedua, dalam bentuk dan dengan cara apa saja syukur dibuktikan dan diekspresikan?

Maka syukur level tinggi adalah syukur terhadap jenis-jenis kenikmatan tingkat tinggi juga

Disamping ia adalah syukur yang dibuktikan dengan kualitas bukti syukur yang lebih tinggi dan juga kuantitas ekspresi syukur yang lebih banyak macamnya


Sebaliknya, syukur level rendah, adalah karena yang lebih banyak diingat dan disyukuri hanyalah jenis dan bentuk kenikmatan “kelas rendah”

Begitu pula, syukur ditunjukkan dengan kualitas yang rendah, dan kuantitas yang sedikit

Sementara itu, secara global, jenis kenikmatan bisa diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan

Tingkat pertama, tingkat terendah, berupa kenikmatan materi duniawi yang bukan termasuk hajat hidup vital dan asasi, serta yang juga biasanya memiliki banyak opsi pilihan. Misanya seperti: nikmat harta dengan segala jenis dan macamnya, pekerjaan, jabatan, kedudukan, kesuksesan materi dan pilihan-pilihan kebutuhan hidup yang lainnya.

Tingkat kedua, tingkat pertengahan, adalah kenikmatan-kenikmatan yang merupakan kebutuhan-kebutuhan hidup yang bersifat vital dan sangat asasi. Seperti misalnya: nikmat hidup itu sendiri, nikmat umur, nikmat waktu, nikmat nafas, nikmat detak jantung, nikmat kelengkapan dan kesehatan fisik seperti panca indera, dan lain-lain.

Tingkat ketiga, tingkat puncak tertinggi, berupa kenikmatan-kenikmatan sejati dan hakiki. Yakni nikmat hidayah, nikmat iman, nikmat islam, nikmat ketaatan, nikmat ibadah, nikmat amal saleh, nikmat dakwah, dan seterusnya.

Nah, jika direnungkan dan dievaluasi, ternyata syukur kebanyakan kita masih berkelas “rendahan”. Hal itu antara lain, karena bentuk dan jenis kenikmatan yang lebih banyak diingat dan lebih sering disyukuri, barulah kenikmatan-kenikmatan dalam kategori tingkat pertama diatas, yang memang merupakan tingkat terendah. Bahkan persepsi kebanyakan manusia tentang kenikmatan, selalu tertuju dan teralamatkan kepada jenis-jenis kenikmatan materi duniawi ini.

Tentu saja kita tidak mengingkari bahwa, itu semua juga merupakan kenikmatan Allah yang wajib disyukuri. Jadi yang jadi masalah dan salah, bukanlah sikap mengingat dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan materi itu. Tidak sama sekali. Itu sudah benar, dan memang harus begitu. Setiap kenikmatan, sekecil dan serendah apapun, wajib tetap kita ingat dan syukuri!

Namun yang salah dan jadi masalah, adalah terabaikan, terlalaikan dan terlupakannya kenikmatan-kenikmatan pada tingkat yang lebih tinggi. Baik yang berada di tingkat kedua diatas, maupun bahkan yang di tingkat puncak, yang merupakan kenikmatan hakiki tak ternilai. Dan karena tidak diingat, maka tentu berarti juga tidak disyukuri. Sedangkan sikap tidak mensyukuri kenikmatan, dalam bahasa Al-Qur’an, sama dengan mengkufurinya. Disinilah perbandingat itu menjadi berat, sulit dan sangat timpang. Dimana sikap syukur akan kenikmatan-kenimatan materi duniawi yang berada di tingkat rendah di satu sisi, harus dibandingkan dan dihadapkan dengan sikap kufur terhadap kenikmatan-kenikmatan lain yang justru merupakan kenikmatan-kenikmatan yang jauh lebih inggi tingkat dan nilainya, lebih-lebih kenikmatan-kenikmatan hakiki yang berada di tingkat puncak!

Nah, jika demikian fakta dan reaalita syukur kita selama ini, bukankah yang paling kita butuhkan saat ini dan seterusnya, adalah upaya-upaya muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri, agar meningkat dan bertambah level syukur di hati?

Maka, dalam rangka muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri tersebut, mari banyak-banyak bertanya kepada diri sendiri, misalnya, seberapa sering selama ini kita berucap al-hamdulillah demi mengingat dan menyadari betapa tak ternilainya nikmat hidup, nikmat umur, nikmat nafas, nikmat detak jantung, nikmat kelengkapan dan kesehatan indera, dan seterusnya?

Demikian pula mari jujur pada diri sendiri dan bertanya lagi misalnya, dalam hari-hari kita sebelum ini, seberapa banyak kita selalu mengingat, menyadari dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan puncak dan hakiki: nikmat hidayah, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ibadah, nikmat amal saleh, dan lain-lain?

Bukankah kita justru lebih banyak mengabaikan, melalaikan dan melupakan kenikmatan-kenikmatan sejati dan hakiki yang tak terhingga nilainya itu?

Sekadar sebagai contoh, saat seseorang dari kita berbuka puasa misalnya, dimana berdasarkan sunnah dan realita, itu merupakan momen kegembiraan, kebahagiaan dan kesyukuran seorang muslim, biasanya hal apa yang lebih membuat yang bersangkutan bergembira, berbahagia dan bersukur saat itu? Adakah ia lebih gembira dan bahagia demi mengingat dan mensyukuri luar biasanya nikmat ibadah puasa yang baru saja sukses ditunaikannya sehari penuh? Ataukah lezatnya hidangan berbuka-lah yang lebih ia ingat dan syukuri?

Jadi, bukankah kita perlu senantiasa memuhasabahi dan mengevalusi level syukur kita?

(Bersambung insya-allah)
readmore »»  

boleh kah banci jadi imam


Bolehkah Banci Menjadi Imam Shalat ?

Banci Menjadi Imam

Bolehkah banci menjadi imam dalam sholat yang ma’mumnya perempuan? Ustad sekalian sama dalilnya.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syarat menjadi imam shalat harus laki-laki, kalau jamaahnya laki-laki atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, dibolehkan imam shalat perempuan manakala jamaahnya hanya perempuan saja, tidak ada yang laki-laki.

Ketentuan itu datangnya dari sisi Allah SWT dan juga merupakan ijma’ para ulama dari semua kalangan.

Adapun banci, tentu kita harus bedah dulu dari segi pandangan agama Islam. Siapakah yang dimaksud dengan banci? Adakah dia termasuk khuntsa ataukah mukhannas.

1. Khuntsa

Khuntsa adalah orang yang secara fisik punya dua alat kelamin sejak lahir, yaitu kelamin laki-laki dan kelamin wanita. Tapi kejadiannya sangat jarang terjadi, walau tetap dituliskan oleh para ulama dalam kitab fiqih mereka terdahulu. Artinya kasusnya bukan sama sekali tidak ada, hanya jarang sekali terjadi.

Para ulama menuliskan ada dua jenis khuntsa. Pertama Khuntsa biasa dan kedua khuntsa musykil.

Khutnsa biasa adalah seorang yang lahir dalam keadaan punya dua alat kelamin sekaligus. Namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan dan lebih berfungsi. Sedangkan alat kelamin yang satunya kurang dominan, walaupun mungkin saja sedikit berfungsi.

Adapun khuntsa musykil, sesuai namanya, memang musykilah. Lantaran dia terlahir dengan dua alat kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Tapi dari sekian banyak khuntsa, yang sampai ke level musykil ini nyaris hampir tidak pernah ada.

Khuntsa pada hakikatnya bukan banci, karena meski dia punya dua alat kelamin, namun salah satunya lebih dominan. Misalnya lebih dominan alat kelamin laki-laki. Meski punya alat kelamin perempuan, namun dia malah tidak mau berpenampilan sebagai perempuan. Penampilannya tetap seperti laki-laki seperti biasa.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Abbas radhyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang bayi yang lahir dengan dua jenis kelamin, bagaimana urusan pembagian warisannya. Beliau SAW menjawab, “Dia mendapat warisan berdasarkan bagaimana kencingnya.” (HR Al-Baihaqi)

Maksudnya, kalau dia kencing lewat kelamin laki-lakinya, maka dia dianggap laki-laki. Sebaliknya, kalau kencing lewat kelamin perempuannya, maka dia dianggap sebagai perempuan. Ini penting, karena pembagian harta warisan akan berbeda antara anak laki dengan anak perempuan.

Namun karena adanya dua kelamin secara alami ini, para ulama menetapan bahwa khuntsa tidak dibenarkan menjadi imam buat jamaah yang laki-laki. Juga tidak dibenarkan jadi imam buat sesama khuntsa.

2. Mukhnnats

Dibandingkan dengan kasus khuntsa, sebenarnya yang paling sering kita lihat dan kita saksikan adalah Mukhnnats.

Mutakhnnats adalah seorang yang secara fisik laki-laki, lalu otaknya dibikin ‘gila’ oleh lingkungan sehingga dia berpikir bahwa dirinya perempuan. Orang seperti ini selamanya adalah laki-laki, tidak pernah jadi perempuan.

Sebab dalam Islam., laki-laki atau perempuan tidak ditetapkan berdasarkan apa yang dirasakan, atau yang dipikirkan, atau yang kumandangkan. Sama sekali tidak. Kelelakian ditentukan oleh alat kelamin saat dilahirkan.

Kalau seorang lahir sebagai laki-laki, dalam arti dia punya alat kelamin laki-laki, maka selamanya dia adalah laki-laki. Kalau syetan dan iblis laknatullah membisiki hatinya dengan sejuta kesesatan, lalu dia melakukan operasi kelamin, maka selain dapat laknat dari Allah karena mengubah ciptaan-Nya, dia juga akan mendapat adzab yang pedih, lantasan Allah SWT melaknat laki-laki yang bergaya dan berpenampilan wanita.

Sekedar bergaya seperti wanita saja sudah dilaknat, walau pun cuma peran dalam film, apalagi pakai operasi ganti kelamin segala. Dosanya berlipat dua tentunya. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, orang seperti ini adalah orang yang tidak punya muru’ah, dan tentunya tidak termasuk kategori orang yang punya ‘adaalah. Orang seperti ini adalah pelanggar dosa besar. Maka tidak diperkenankan kita shalat di belakang orang yang tidak punya muru’ah, tidak adil dan sekaligus pelaku dosa besar secara terang-terangan.

Dalam syariat Islam yang tegak sebagai sebuah sistem hukum positif, para banci seperti ini harus diperiksa secara mendalam dan dihukum ta’zdir agar kembali ke jalan yang benar. Dan tentunya semua media massa yang ikut mengembangkan pola hidup kebancian ini harus dihentikan, karena berisi ajaran yang sesat dan menyesatkan.

Artis Bencong Laknatullahi ‘Alaihim

Termasuk yang wajib dihentikan adalah kelakuan para artis yang sering tampil jadi banci, walau cuma pura-pura, tapi tindakan itu jelas menghina dan melecehkan agama. Mereka ini perlu diteraphi atau diajak sering-sering ziarah kubur. Biar tahu dan merasakan bahwa adzab kubur itu menyeramkan, pedih dan pasti kita tidak akan kuat.

Para artis yang sering jadi bencong itu juga perlu sering-sering diajak ke kamar mayat, terutama yang matinya tidak wajar, seperti terlindas truk, atau loncat dari gedung tinggi, atau disambar petir, atau tersambar kereta api yang melaju kencang.

Buat apa?

Biar mereka tahu bahwa nanti kalau mereka mati, dan memang pasti mati cepat atau lambat, maka nasib mereka akan jauh lebih parah dari semua mayat itu. Kita perlu yakinkan mereka bahwa ini bukan sekedar menakut-nakuti, tapi ini kenyataan.

Terapi ini bukan hanya berlaku buat para artis yang sok jadi bencong itu, tetapi juga berlaku buat para kru dan para produser yang duitnya nanti jadi saksi di akhirat, bahwa dia telah menyebarkan paham sesat dan menyesatkan umat, lewat tayangan yang ada bencongnya.

Dan tentu saja juga berlaku buat para penonton di rumah yang malah ikut asyik tertawa melihat artis tidak lucu bergaya bencong. Tertawanya para penonton itu nanti juga harus dipertanggung-jawabkan di depan malaikat.

Setidaknya pertanyaan itu begini: Mengapa kamu tertawa melihat kemungkaran dan kebatilan? Mengapa kamu bukannya mengubah kemaksiatan itu tapi malah ikut menikmatinya? Mengapa kamu diamkan saja ketika ada orang bergaya bencong dan tidak ikut memberi peringatan?

Dan sejuta pertanyaan lainnya yang rasanya kita tidak akan mampu menjawabnya. Kalau sudah kejadian seperti itu, pasti kita semua akan bilang begini: Ya Allah, mengapa saya dulu jadi manusia, mengapa saya tidak dijadikan tanah saja?

Wallahu a’lam bishshsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
readmore »»